Mengenal Keunikan Bangunan Societeit Mangkoenegaran

 

Gedung Societeit Setelah Pembangunan tahun 1918an

Monumen Pers Nasional dulunya merupakan Societeit Mangkoenegaran yang dibangun pada masa Mangkunegara VII berkuasa saat masih bergelar Pangeran Adipati Arya Prangwedana. Sebagai arsiteknya Mangkunegara VII menunjuk Mas Aboekassan Atmodirono yang sama – sama aktivis Boedi Oetomo untuk mendesain Gedung societeit ini.

Penunjukan tersebut terbukti dengan adanya surat menyurat antara keduanya yang menunjukkan beberapa proses rencana desain bangunan yang dibuat oleh sang arsitek Mas Aboekassan Atmodirono dengan keinginan Mangkoenegoro VII:

berdasarkan surat tersebut, apabila di terjemahkan di dalam bahas Indonesia maka akan terbaca sebagai berikut:

Diluar surat tersebut, ada juga sebuah surat kabar yang menyebutkan bahwa Societeit Mangkoenegaran ini adalah karya arsitek Atmodirono. Surat kabar Limburger Koerier (surat kabar Belanda dan berbahasa Belanda) menyebutkan bahwa Atmodirono lah yang membuat rancangan bangunan Mangkoe Negorosche Societeit:

Gedung Societeit Mangkoenegaran ini merupakan karya pertama dan terakhir Sang Arsitek Mas Aboekassan Atmodirono di bidang Gedung dan bangunan. Gaya atau langgam bangunannya memadukan dua unsur langgam bangunan yang berbeda. Beliau memadukan langgam Hindu Jawa Tengah sebagai pengejawantahan budaya Timur dan langgam kolonial pada masanya sebagai pengejawantahan budaya Barat. Perpaduan langgam dua budaya ini menjadi ciri yang paling menonjol dari Societeit Mangkoenegaran. Langgam Hindu Jawa Tengah ditampilkan pada fasad Gedung yang menyerupai bentuk stupa candi Budha periode Jawa Tengah, bentuk stupa juga muncul di bagian atap Gedung yang menampilkan beberapa stupa kecil sebagai ornament bangunan. Selain bentuk stupa, unsur candi periode Jawa Tengah juga muncul pada dinding Gedung yang dibuat kasar dan berwarna abu abu menyerupai dinding candi. Langgam colonial societeit Mangkoenegaran muncul pada bentuk kolom -kolomnya yang tinggi dengan pintu dan jendela yang besar dan tinggi. Bentuk ini merupakan salah satu cara adaptasi bangsa Eropa terhadap iklim tropis  Hindia Belanda.

Denah

Pada tahun 1918 – 1920 an denah Gedung Societeit Mangkoenegaran berbentuk huruf T terbalik dan mengalami perubahan bentuk menjadi persegi pada sekitar tahun 1950an. Perubahan denah ini hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan dan alasannya.

Sejarah

Societeit Mangunegaran terletak di sebelah barat Kadipaten Mangkoenegaran yang merupakan  Kawasan Koesoemawardhani Plein. Societeit ini dibangun sebagai tempat untuk mewadahi para pegawai Mangkoenegaran dalam hal hiburan dan tempat pertemuan, juga untuk mempererat tali persaudaraan kerabat Mangkoenegaran.

Menurut babad Sala, Societeit mangkoenegaran ini pernah mengalami perbaikan meskipun tidak diceritakan bagian bagian yang diperbaiki. (Penulis: Rahayu Trisnaningsih)