Perlakuan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Indonesia sampai sekarang masih tidak layak dan problematik. Bahkan di beberapa tempat, kadang masih bisa ditemui ODGJ yang dipasung atau dikurung.

Seperti nasib Sartini di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah ini. Gadis 17 tahun tersebut diasingkan di sebuah kerangkeng yang terbuat dari bambu.

Gb. Kompas 3 Januari 1977

Sartini tinggal bersama abang dan ibunya. Setahun sepeninggal ayahnya, Sartini menderita gangguan kejiwaan. Keluarganya tidak mampu mengirim Sartini ke rumah sakit jiwa. Maka atas anjuran penduduk setempat, Sartini dikerangkeng agar tidak mengganggu.

KOMPAS melaporkan, Sartini kemudian sembuh setelah 9 bulan di dalam kerangkeng. September 1976, ia kambuh dan dikerangkeng lagi.

Kerangkeng tempat Sartini tinggal ditempatkan di bekas kolam ikan. Di atas kerangkeng ditindih batu besar. “Kalau hujan, kehujanan, dan makanan disodorkan begitu saja,” tulis KOMPAS. “Itupun hanya umbi-umbian.” Semua kegiatan Sartini dilakukan di dalam kerangkeng berukuran 60 x 120 cm. Ukuran kerangkeng membuat Sartini hanya cukup untuk duduk.

Sartini mengungkapkan rasa tidak enak di dalam kerangkeng. “Ini kan kotor,” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang lancar. Sartini lulusan SD dan menurut berita KOMPAS, ia lancar dalam tanya jawab.

Pemerintah, menjawab pertanyaan KOMPAS, menjawab akan segera memindahkan Sartini ke rumah sakit jiwa. “Tidak sepatutnya gadis tersebut diperlakukan seperti itu,” tulis reporter KOMPAS.

Sumber: KOMPAS, 3 Januari 1977 / Koleksi Monumen Pers Nasional