Pembrita Bahroe tertanggal 4 Februari 1885 adalah koran yang terbit di Surabaya setiap hari terkecuali hari Minggu dan hari Besar. Koran tersebut memberitakan tentang pengepungan oleh Cina terhadap Kapal Kroewis Prasman di Formosa Taiwan. Berita lain mengisahkan tentang kuli-kuli yang berasal dari Semarang di bawa oleh orang-orang Eropa ke Deli dengan menggunakan kapal. Di dalam kapal, kuli-kuli tersebut dengan terpaksa harus dicap tangannya yang luar biasa sakitnya dengan inisial V.D. Akan tetapi, ketika diperiksa polisi, sang mandor yang berbuat demikian mengatakan bahwa hal itu bukanlah paksaan, melainkan atas kemauan dari kuli-kuli itu sendiri.

Berita ringan datang dari beberapa daerah diantaranya dari Tegal menceritakan bahwa dalam terbitan Pembrita Bahroe tanggal 23 Januari 1885 No.19, diutarakan  perjanjian atas keputusan R.B. Prawirodirejo seorang bekas mantri di pabrik Gudang Garem yang akan mengganti uang sebanyak 6000 gulden. Kemudian, pada tanggal 24 Januari 1885, berdasarkan hasil pemeriksaan pengadilan di Brebes, hakim menolak pendakwaannya. Kabar dari Surakarta mengisahkan pada tanggal 18 Januari 1885 seorang lelaki kira-kira berumur 25 tahun menaiki seekor kuda datang ke sungai Bengawan. Kudanya diikatkan kain kemudian kain tersebut diikatkan pula kepinggangnya kemudian menyeberanglah keduanya. Ketika berada ditengah sungai kudanya tenggelam, hanyutlah orang tersebut, ketika kudanya muncul lagi, si pemiliki kuda telah hilang dibawa arus.

Dari Padang diberitakan tentang orang Cina yang datang dari Singapura untuk merayakan Tahun Baru Cina pada tanggal 15 Februari disuguhkan pula berita tentang perampokan di Rimbo Pandjang.

Di Malang tertulis berita dalam Surabaya Courant tentang penyakit hewan di Toeren yang belum diketahui jenis penyakitnya. Kemudian asisten dari Residen v.d. Palm pergi ke Kepanjen dan menemukan banyak sapi yang mati. Kemudian v.d Palm membuat peraturan akan berusaha untuk mencegah dari penyakit hewan tersebut.

Berita dari Ambon dikabarkan tentang kerusuhan, bahwa pada bulan Desember 1884 datanglah ke negeri Amaheij atau pulau Seram, sebuah kapal api perang yang bernama Merapi yang membawa 40 serdadu. Kerusuhan ini berawal dari para saudagar yang menjual barang dagangannya dengan membodoh-bodohi penduduk pribumi hingga menimbulkan kemarahan.

Kabar dari Madura tentang pengumuman lelang, seorang kanjeng residen memberitahu bahwa pada hari Senin pagi tanggal 1 Juni 1885 pukul 10, di kantor residen Pamekasan dilakukan pelelangan makanan kuda dilingkungan pemerintah Madura dalam jangka waktu 3 tahun (1886 -1888). Surat penawaran lelang dapat dikirim ke kantor residen Pamekasan sampai batas waktu pelelangan dimulai.

Itulah sekilas isi berita dari koran Pembrita Bahroe, koran ini menggunakan bahasa Melayu yang terbit pada masa pendudukan Belanda dengan memberikan informasi baik di dalam maupun luar negeri .

Penulis: Eti Kurniasih

Catatan: Untuk isi lengkapnya bisa dibaca di layanan Epaper Monumen Pers Nasional