KETAKWAAN PASKA MUDIK

sumber foto : Berita2bahasa.com

sumber foto : Berita2bahasa.com

Idul fitri 1436 segera berlalu, pemudik kembali beraktifitas, berkegiatan sebagaimana sebelum lebaran setelah melepas rindu kampung halaman bertemu orang tua,  handai taulan, sanak saudara, teman sepermainan, flasback  ke masa lalu, sesaat menikmati raihan kesuksesan dirantau.

Setelah digembleng berpuasa dibulan ramadhan yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, menahan lapar dan dahaga, nafsu syahwat dan segala sesuatu yang membatalkan puasa disiang hari yang diharapkan dapat mencapai derajat takwa sebagaimana yang dijanjikan, diakhiri dengan gema takbir kemenangan di seantero penjuru bumi  mengakbarkan Asma sang pencipta.

Puasa pada hakekatnya merupakan  salah satu bentuk kasih  sayang Allah Swt kepada umatnya yang beriman, betapa tidak, setelah bermaksiat, melanggar larangan  bergelimang dosa setahun. Pada bulan puasa, Allah Swt memberikan pahala/ imbalan berlipat-lipat  dan  bagi mereka yang sungguh – sungguh berpuasa akan diampuni dosanya yang telah lalu dan ada lagi sebuah bonus bagi orang yang mendapatkan malam lailatul qodar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Sekitar kurang lebih 90 % dari  total 254.862.034 jiwa,  penduduk Indonesia yang  menganut agama islam, bila saja semuanya melaksanakan puasa dengan sebenar-benar puasa, maka negeri pasti akan diberkahi dan dilimpahi rahmat  Allah swt sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, baldatun thoybatun warobbun ghofur. Indonesia dengan jumlah penduduk beragama islam  terbanyak didunia, idealnya menjadi paru-paru dunia yang mampu menyebarkan virus rahmatan lil alamin, bila pemeluknya sungguh-sungguh menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhkan diri dari segala larangannya.

Tinggal sekarang bagaimana kita menyikapi   paska ramadhan apakah kita kembali keselera asal, suasana yang penuh kegaduhan, polemik, pertentangan, egoisme sentris, hipokrit menang sendiri, nir kepedulian terhadap sesama dsbnya. Dalam sebuah hadits , Rasulullah bersabda: Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, atau orang yang hari esok sama dengan hari ini, orang itu akan merugi. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin orang itu sungguh celaka, tetapi apa bila hari ini lebih baik dari kemarin, atau hari esok lebih baik dari hari ini, maka orang itu akan beruntung”.

Saat puasa kita melaksanakan perintah  Allah Swt, baik ibadah ritual maupun sosial, dengan meningkat kan kualitas puasa,  memperbanyak sholat, dzikir, mentadaburi Al Qur’an infaq , sedekah ,zakat fitrah, zakat mal dan lainnya yang sebagai bentuk kepatuhan  kita kepadaNya dan  kepedulian kepada sesama makhluk. Nah ritme inilah yang seharusnya terus dipelihara secara konsekwen, konsisten,  suasana puasa  yang  membangkitkan empati kepedulian terhadap orang lain yang hidup penuh kekurangan dan menderita.

Petani kembali  kesawah, Pegawai, buruh kembali bekerja, Pedagang kembali menggelar lapak, Perantau kembali mengais rejeki, tidak jarang membawa sanak famili untuk mengadu nasib dengan bekal ketakwaan, buah dari puasa sebulan penuh, kebersihan hati, kejernihan pikiran, kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1436. Semoga menjadikan Indonesia yang lebih baik. (Supardi)