Bagi mereka yang aktif dikomunitas  media dan sastra di Sumatera Barat, Padang  khususnya nama Rusli Marzuki Saria sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Sosok yang biasa dipanggil “Papa” oleh yuniornya masih terlihat lincah baik dari fisik maupun dalam berkomunikasi.

Penulis Menerima 3 buah buku puisi
Penulis Menerima 3 buah buku puisi

Intonasinya masih cukup jelas dengan aksentuasi khas minang membuat kita betah berlama-lama berbicara panjang lebar, masalah politik, sastra bahkan persoalan kehidupan. Ditopang  daya ingat yang masih tajam beliau menceritakan sejarah panjang  perjalanan hidupnya.

Rusli Marzuki Saria lahir di Kamang Kabupaten Agam,  pada 26 Februari  2015 nanti  genap berusia 79 tahun, diusianya yang tak muda lagi masih aktif berkiprah dalam komunitas sastra baik sebagai penyair, pengamat maupun juri.

Ketika sekolah di SMA Bukittinggi tahun 1956 ia telah mulai menulis esei dan puisi yang dimuat di ruangan Kuncup Muda Harian Haluan Padang dan dibacakan acara pembacaan  puisi dan sajak di Radio Republik Indonesia (RRI) Buklittinggi.

Sejak kota Bukitinggi diduduki tentara pusat pada 4 Mei 1958. Rusli Marzuki Saria  bergabung dengan dengan kompi mahasiwa “Mawar”, pada saat itu ada istilah orang  PRRI adalah yang masuk kehutan sedang tentara pusat yang berada diperkotaan.

Kesempatan  untuk mengikuti Pendidikan Tinggi  Ilmu Kepolisian (PTIK) menjadi sirna disebabkan Ikutnya beliau dengan PRRI . Pada 31 Juli 1961 amnesti Presiden Soekarno  diumumkan.

Berakhirnya PRRI beliau pindah ke Padang dan aktif menulis diberbagai media yang terbit ketika itu: Respublika, Aman  Makmur dan Angkatan Bersenjata. Pada tanggal 1 Mei 1969 bersama rekan wartawan lainnya , Chairul Harun, Basri Segeh dll  mendapat tawaran oleh Kasoema untuk menerbitkanlkembali harian haluan yang sudah sepuluh tahun tidak terbit dan dipercaya  sebagai sekretaris redaksi.

Sebagai wartawan, beliau telah mengikuti berbagai kegiatan diantaranya Karya Latihan Wartawan (KLW) daerah 1973, KLW XVI Jakarta 1978, KLW dan Seminar Wilayah I PWI Pusat di Medan 1986, KLW Yogyakarta 1991, KLW-KMD Kaliurang Yogyakarta 1992, Penataran P4 Pola 120 Angkatan X Sumbar di Padang. Pernah meliput latihan perang Angkatan Laut RI dengan Angkatan Laut Australia di Great Barrir Reef Pasifik selama 2  bulan.1977 , sedang sebagai pengurus PWI penah menjabat Wakil Bendahara, Ketua bidang  1975- 1988, pernah juga  menjabat sebagai pengurus Golongan Karya dan jadi anggota DPRD 1982-1992.

Sebagai penyair sering mengikuti berbagai even dan pertemuan sastrawan dan kebudayaan: Pertemuan Penyair Dan Sastrawan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Pertemuan Sastrawan Nusantara , di Kuala Lumpur, Johor Baru di Malaysia. Undangan Pembacaan Puisi di Dewan Kesenian Jakarta, Sebagai Pembicara  bersama Sutardji Calsum Bachri, HB Jassin, Slamet Sukirnanto dan sebagainya.

Rusli Marzuki Saria masih terlihat enerjik, menurut beberapa rekan seangkatannya masih suka naik “kereta angin” bila bepergian. “Saya adalah penyair yang mempunyai profesi wartawan” katanya. Beberapa buku puisi  yang telah terbit diantaranya “Parewa”, “Sembilu Darah” dan Mangkutak di Negeri Prosa Liris” dan banyak tulisan lepas yang dimuat berbagai media masa di Indonesia.

Rusli Marzuki Saria adalah sedikit dari sedikit wartawan daeah yang bertahan melawan mitos “merantau” Ketika dimintai pendapatnya tentang karya sastra saat ini terutama puisi, ia mengatakan, “Puisi anak muda sekarang mengalami pendangkalan makna,  karena tidak melalui perenungan mendalam” .

Terhadap situasi dan kondisi berbangsa dan bernegara saat ini, yang perlu dilakukan katanya,  “Dengan menguatkan kearifan lokal dan budaya daerah akan berimbas menguatkan Persatuan Dan Kesatuan Bangsa.  (berbagai sumber) (Supardi SSos)