Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), adalah garda terdepan perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Sebagai wilayah perbatasan, tentu banyak hal yang harus dibenahi di kabupaten ini, seperti infrastruktur, keamanan, hingga nation building.
Bicara Nunukan, tentu kita akan mengingat kembali peristiwa 52 tahun yang silam. Tepatnya tahun 1962 ketika terjadi peristiwa “Ganyang Malaysia”. Sebuah konfrontasi antara Indonesia-Malaysia, dimana wilayah Kabupaten Nunukan menjadi garis depan terjadinya pertempuran dua bangsa serumpun ini. Saat itupun perairan wilayah Nunukan masih dikelilingi oleh hutan lebat dan menjadi titik pendaratan pasukan Korps Komando Operasi (Marinir) yang akan melakukan penyerbuan ke wilayah Malaysia.
 
Tugu Dwikora
Pada tahun 1962 itu, Seruan Presiden RI Soekarno untuk mengganyang Malaysia disambut oleh masyarakat Nunukan. Maka, bersama tentara nasional, masyarakat Nunukan berperang hingga kemudian tidak sedikit yang gugur.
Maka, untuk mengenang pengorbanan dan jiwa keberanian mereka, dibuatkanlah Tugu Dwikora di alun-alun Nunukan. Di bagian bawah tugu dilengkapi dengan sebuah tank dan meriam, serta dihiasi beberapa dokumentasi perjuangan para pahlawan. Namun apa hendak dikata, tugu perjuangan masyarakat Nunukan itu kini tak terawat.

nunukan3Keberadaan Tugu Dwikora itu pun menjadi sorotan salah satu veteran KKO, Samad Sudjana. “Sebagai bangsa besar, seharusnya generasi penerus mampu memelihara keberadaan situs bersejarah bagi perjalanan bangsa ini. Kami tidak minta apa apa, tapi tolong pelihara peninggalan bersejarah seperti Tugu Dwikora ini. Sebagai peringatan kepada anak cucu bahwa kita rela megorbankan jiwa dan raga demi keutuhan negeri ini,” kata Samad.

Saksi Hidup Tokoh Dwikora  veteran KKO, Haji. Samad Sudjana.
Saksi Hidup Tokoh Dwikora veteran KKO, Haji. Samad Sudjana.

Samad tentu menyesalkan jika pemerintah daerah tidak mampu melestarikan Tugu Dwikora yang dibangun tahun 1964 tersebut. “Jangan ngriwuk tugu yang sudah ada. Harusnya tugu itu bebas dari bangunan disekitarnya. Sebagai bangsa yang besar hargailah perjuangan para pendahulu,”  katanya.

 
Peningkatan SDM
Dalam meningkatkan hubungan birokrasi dan komunikasi, baru-baru ini (Rabu 10/12), Kepala Monumen Pers Nasional, Suminto Yuliarso, melakukan kunjungan kerja ke Pemda Kabupaten Nunukan. Suminto Yuliarso disambut oleh Setda Asisten Administrasi Bidang Pemerintah Kabupaten  Nunukan, Drs. H. Taufiqqurahman, Msi.
Diakui oleh Taufiqqurahman, banyak ketertinggalan di Kabupaten Nunukan dibandingkan dengan kabupaten lain. Untuk memacunya, kata Taufiqqurahman, Pemkab Nunukan berupaya meningkatkan SDM Pegawai Negeri Sipil, salah satunya adalah Bimbingan Teknis  Photografi Kehumasan dan Instansi Pemerintah.
Rumah Unik Batas Republik Indonesia-Malaysia. Yang dari depan sampai ruang tamu milik RI dan ruang dapur sampai MCK Milik Malaysia.
Rumah Unik Batas Republik Indonesia-Malaysia. Yang dari depan sampai ruang tamu milik RI dan ruang dapur sampai MCK Milik Malaysia.

Keinginan tersebut tentu direspon positif oleh Suminto Yuliarso.  Kepala Monumen Pers Nasional ini akan menyampaikan kepada Dirjen IKP-Kementerian Kominfo,  untuk memberikan Bimbingan Teknis/ Pelatihan  kepada Pemkab Nunukan. “Kita dapat memberikan bimbingan teknis penulisan media on line. Atau, bila ada event-event yang berkaitan  dengan Informasi dan Komunikasi di Kabupaten Nunukan agar secepatnya memberi kabar sehingga Dirjen IKP  dapat memberikan pengarahan, masukan dan saran,” ujar Suminto.

Bagi Suminto Yuliarso, Nunukan adalah daerah perbatasan yang sudah seharusnya memperoleh perhatian lebih dibanding daerah lain. Karena, Nunukan merupakan wilayah yang strategis dalam usaha membela kedaulatan  negara (NKRI), untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya perlu  lebih diperhatikan. (Kuncoro MS)